TAHUN BARU 2012

Tahun Baru 2012

Boleh jadi pergantian tahun yang lama ke tahun yang baru, hanyalah persoalan angka. Angka tahun kemarin 2011, dan sekarang menapak 2012. Atau hanyalah persoalan gebyar seremonial saat detik-detik pergantian tahun dengan kesemarakan perayaan kembang api yang spektaku-ler serta lengkingan terompet di seantero pelosok dunia. Ah, kan setahun sekali, begitulah dalih yang pas untuk pembelaan diri ketika acara malam tahun baru itu dinilai terkesan hura-hura menghabiskan energi, pikiran, dan uang tentu saja. Dan pas tanggal 1 Januari sebagai hari pertama bergulirnya tahun yang baru,  sikap bermalas-malasan kontra produktif menjadi lebih permisif. Seharian tak menghasilkan apa-apa, tak jadi apa.

Boleh-boleh saja, tak ada larangan menyambut tahun baru dengan gebyar yang beraneka warna. Tapi selalu saja ada konflik batin yang menyeruak, kalau mau direnungkan, ketika di penghujung tahun ternyata kita belum menorehkan tinta emas prestasi dan kualitas diri yang lebih baik dalam rentang 365 hari yang lalu. Sekali lagi, dengan catatan kalau mau merenung. Angka tahun berniscaya untuk bertambah dan berganti, itu artinya secara kalender usia kita pun bertambah angka satu. Namun, pada hakikatnya justru angka usia kita berkurang satu, menuju keniscayaan hari kematian. Baca tulisan ini lebih lanjut

CATATAN AKHIR TAHUN

Serasa sekejap perjalanan tahun kelinci, yang sebentar lagi akan meninggalkan kita. Torehan suka dan duka atau sedih bahagia mewarnai rentang waktu 365 hari. Ketika menapaki awal bergulirnya tahun kelinci ini, boleh jadi kita telah menancapkan resolusi untuk merencanakan segala sesuatunya dengan lebih baik lagi. Itu wajar, dan memang sudah semestinya.

Kini di penghujung tahun, sangat bijak jika kita mencoba merefleksi diri dengan sepenuh kejujuran tentang apa saja yang sudah kita gapai, sejauh mana prestasi yang telah diperoleh, kendala apa saja yang menghalangi cita-cita atau target tertentu, dan seterusnya.

Apa yang dirasa baik dan bermanfaat untuk diri pribadi, lebih-lebih untuk sesama, layak dipertahankan bahkan ditingkatkan di tahun naga nanti. Sesuatu yang perlu menjadi catatan untuk dikembangkan atau disempurnakan, tentu harus diupayakan untuk ditingkatkan sebaik-baiknya. Dan hal yang belum dilakukan menyangkut prestasi progresif ke depan sesuai dengan minat dan bidang garapan kita masing-masing, pantas diagendakan secara proporsional.

Terlepas dari manis-pahit, putih-hitam, cerah-redup, suka-duka, dan seterusnya sepanjang tahun 2011, apa yang kita terima dan dapatkan semestinya kita syukuri. Di sisi lain, tidaklah menjadi keputusasaan sesuatu yang didambakan tapi belum terpenuhi. Jadikanlah sebagai refleksi untuk menjadikan hari esok yang jauh lebih baik ketimbang hari ini.

Selamat tinggal 2011 dengan segala yang mewarnainya…

SELAMAT TAHUN BARU 2012 …!!!

Hakikat Kurban

Hakikat Kurban

Ritual dan spiritual dari kurban, tak bisa dilepaskan dari makna historis yang mewarnai perjalanan hidup Ibrahim dan putra tercintanya Ismail. Jauh sebelum Ismail dihadirkan ke dunia yang penuh dengan ingar bingar ini, ternyata kemunculan atau kelahirannya telah lama dirindukan oleh Ibrahim selama tujuh puluh tahunan. Baca tulisan ini lebih lanjut

Gus Dur di Mata Gusdurian

Gus Dur di Mata Gusdurian

 Sebut saja orang yang bersimpati dan berapresiasi serta menghormati nilai-nilai perjuangan Gus Dur sebagai Gusdurian. Secara kebetulan sebutan Gusdurian boleh “dianalogikan” dengan kesukaan Gus Dur akan buah durian, sehingga orang-orang dekatnya ketika menawarkan buah itu kepadanya akan berucap, “Gus, durian…!”.

 SEMANGAT pluralisme, demokrasi, dan humanisme merupakan nilai-nilai dominan yang diwariskan Gus Dur kepada anak bangsa. Gusdurian, sudah barang tentu, merasakan semangat nilai-nilai itu. Tak berlebihan kiranya, jika banyak pihak yang menyebut Presiden ke-4 RI itu sebagai Guru Bangsa. Secara struktural pemerintahan, Gus Dur pernah menjadi orang nomor satu di negeri ini. Tapi bukan karena pernah menduduki kursi RI-1 itu yang menjadikan Gus Dur dikenang banyak kalangan. Keharuman nama Gus Dur lebih karena konsisten menerapkan, memperjuangkan, serta membela plu-ralisme, demokrasi, dan humanisme tadi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun tanpa ragu menyatakan, bahwa Gus Dur adalah Bapak Pluralisme dan Multikulturalisme. Baca tulisan ini lebih lanjut

Mari Berkontemplasi

Mari merenung dengan kedalaman dan nilai rasa yang mengendap dalam sanubari. Hakikat sebagai sosok manusia untuk senantiasa mengasah pikir, kemudian terukir secara rapi dalam hati, lantas diaktualisasikan dalam perilaku nyata sehari-hari. Baca tulisan ini lebih lanjut

Dan.. Plato pun Menyapa Osama

Dan.. Plato pun Menyapa Osama

napas humanisme menyeruak relung-relung zaman
konon, zaman ini zaman supramodern
di sudut sana bilang utramodern
ada pula yang terbuai dengan sebutan postmodern

tapi aneh, yang menyebut dirinya paling modern
justru mendayu-dayu bercengkerama dalam dunia maya Baca tulisan ini lebih lanjut

Antara Rezim Bush, Zionis, dan Teroris

Antara Rezim Bush, Zionis, dan Teroris

Judul buku : Lobi Zionis & Rezim Bush: Teroris Teriak Teroris
Penulis : Herry Nurdin
Penerbit : Hikmah Mizan Publika, Jakarta
Edisi : Cetakan I, November 2006
Tebal : vii + 299 halaman

“Amerika bak penderita amnesia atau kehilangan ingatan dalam kurun waktu tertentu. Amerika lupa dirinya sendiri. Kian tahun, Amerika tidak kian bijak sebagai negara besar yang berumur tua. Kian tahun Amerika kian hancur,” demikian kritik tajam Gore Vidal – sastrawan dan sejarawan terkemuka Amerika – terhadap negerinya sendiri yang lantang berteriak demokrasi dan berperang demi keadilan padahal presidennya sendiri seorang diktator. Bush dipandangnya sebagai presiden yang buruk. Baca tulisan ini lebih lanjut

DI AMBANG BERAKHIRNYA ZAMAN JAYABAYA

DI AMBANG BERAKHIRNYA ZAMAN JAYABAYA

Judul Buku : Ramalan Jayabaya dan Serat Darmogandhul
dalam Putaran Zaman yang Harus Kita Jawab

Penulis : Amat Iskandar
Penerbit : Dahara Prize, Semarang
Cetakan : Pertama, 2007
Tebal : x + 197 halaman

Berbagai versi dan kontroversi tentang Ramalan Jayabaya dan Serat Darmogandhul, dari dulu hingga kini bahkan entah sampai kapan nanti, terus menjadi pembicaraan dan perdebatan di kalangan budayawan, agamawan, hingga masyarakat awam. Baca tulisan ini lebih lanjut

MENINDAKLANJUTI RINTISAN VAN DER HOOP

Baca tulisan ini lebih lanjut

DALAM HENING SEORANG PENYUNTING

DALAM HENING SEORANG PENYUNTING

Oleh Imron Samsuharto

SEORANG pengurus IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) dalam suatu kesempatan pernah mengatakan, “Bisnis di bidang buku kadang merupakan pilihan dilematis. Kalau ingin menjadi kaya, jangan bisnis di bidang buku!”. Rasanya cukup beralasan, di satu sisi ada muatan idealis turut mencerdaskan anak bangsa, namun di sisi lain ingin tetap eksis secara ekonomi.
Jujur saja, untung secara ekonomi dalam bisnis penerbitan buku ternyata tak seberuntung bisnis di bidang lain, semacam bisnis telemedia, retail, sembako, atau bahkan jasa persewaan buku bacaan (komik, teenlet, nori, dan sebagainya). Sudah jamak dan bukan rahasia lagi kalau elemen personel yang berkecimpung dalam dunia penerbitan buku hidupnya begitu-begitu saja meskipun sudah puluhan tahun terjun menekuni bidang itu. Mereka lebih “kaya” secara nonmateri – karena produknya yang berwujud buku itu berandil besar mencerdaskan kehidupan bangsa — di tengah-tengah derasnya gebyar materi. Baca tulisan ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.